Pertanyaan ini, beberapa bulan terkhir lekat dalam benak saya. Perceraian selebritis dan yang termutakhir dugaan poliandri yang dilakukan pedangdut belia berwajah manis, mungkin menjadi salah satu penyebabnya.
Fenomena ini biasanya berakar pada kalimat : salah pilih pasangan . Entah karena ternyata tidak sesuai harapan hingga hidup penuh kekecewaan, atau karena telah menemukan pilihan lain yang dianggap lebih. Ya lebih membahagiakan, ya lebih ‘berkepribadian’, ya lebih bisa ‘fun’, dan berbagai ‘lebih’ lainnya.
Mengenai ‘salah pilih’ ini, sahabat saya, seorang cendikia sastra-filsafat punya pendapat. Yang setelah mendengarnya, saya mengatakan “again, you really show your quality, bang”. Karena lagi-lagi pendapatnya benar. At least, kalau dicerminkan pada diri saya sebagai perempuan.
Mengapa perempuan bisa kejeblos memilih pasangan? Menurut pengamatannya (mungkin juga pengalaman pribadinya..hehe..), secara psikologi, perempuan umumnya suka dengan lawan jenis yang menyenangkan. Menyenangkan, ukurannya: menghibur, cengengas-cengenges, muji-muji fisik, bisa diajak main-main, nonton, makan somay dsb.
Menurutnya perempuan umumnya memang cenderung suka hal yang sifatnya nge-pop, instan, artifisial. Cenderung tidak suka diajak ngomong tentang tema yang serius. Misalnya tentang filsafat, politik, ilmu-ilmu sosial, sains, musik, klasik, dan sebagainya.
Kalau sudah dewasa, perempuan umumnya baru menyadari. Laki-laki yang suka cengengas-cengenges (alias menyenangkan secara artifisial itu) ternyata laki-laki yang gak bermutu. Sudah gak bermutu, egosentrik laki pula. Sudah gitu, berwatak patriarkhi lagi. Mengklaim bahwa laki-laki makhluk superior, pusat segala otoritas dan kebenaran. Itu biasanya tersingkap kalau sudah membangun sebuah lembaga yang namanya rumah tangga.
Memang, kalau diamati lebih jauh, di negara ini kultur patriarkhi itu tercermin dalam banyak hal. Mungkin kita tidak menyadari bahwa sejak kecil, dalam benak kita ditanamkan mitos bahwa laki-laki adalah mahluk superior.
Tidak percaya? . Dulu, ketika kita masih sekolah, dalam pelajaran bahasa Indonesia tertulis: “Ayah sedang membaca koran di beranda depan, ibu sedang memasak di dapur”, seolah ibu selalu identik dengan urusan masak-memasak, sedangkan ayah adalah sosok intelektual sehingga cukup membaca koran saja. Tidak perlu ikut sibuk dengan urusan dapur, menyapu, cuci piring, ngupas bawang, dsb. Perlahan dengan pasti mitos ini tertanam kuat dalam pikiran kita.
Kita memang sebaiknya berhati-hati dalam memilih pasangan hidup. Ikrar pernikahan hendaknya dibuat dalam kesadaran penuh, bahwa memang tidak ada pasangan yang sempurna.
Karena memang tidak ada suami (juga istri) yang sekaligus cocok dengan kita. Artinya, setiap pilihan potensial mengandung unsur salah. Tidak analog dengan kunci dan gagangnya: klek, pasti cocok. Pasti ada perbedaan-perbedaan.
Menurutnya dalam diskusi kami sore itu, harmoni rumah tangga terbangun bukan karena suami-istri itu memiliki banyak kesamaan. Sama-sama hobi berenang atau sama-sama suka makan pisang goreng, misalnya. Tapi kemauan untuk lebih dari sekedar “mengerti” pasangan masing-masing yaitu mampu “memaklumi”.
Pendapat yang sangat benar. Namun kalau untuk saya, masih kurang. Sejalan dengan waktu dan peristiwa, saya merasa perlu menambahkan : “ikhlas”. Ikhlas berperan sebagai pasangannya. Ini kunci utamanya. Dan ilmu ikhlas ini, tidak mudah dipelajari.
Ahh..saya akhirnya bisa mengerti kalau dulu, teman kuliah saya pernah berprinsip “carilah suami sesuai apa yg kita butuhkan”. Hmmm…











setuju jeng..
intinya ikhlas
justru itu : ikhlas itu susah.
in most cases, rintangan kadang terungkap dalam tanya
sejauh mana kita mampu memberikan ikhlas dari lubuk hati yang berdarah-darah.
.
ya Ikhlas memang intinya dalam hal apapun, karena apapun yang kita lakukan tanpa ikhlas ya jadi ngak ada nilainya, dan dalam pernikahan ganjaran nilainya adalah “Sempurnanya setengah dien” Nah dengan ukuran ganjaran sebesar itu sangat wajar kalo ujiannya sampai harus hati berdarah-darah…
L.i.k.e. this sist! thats right. harus saling pengertian.
YNWA!