Anda penyuka tanaman bunga?. Anggrek- anggrek di rumah kami rajin berbunga. Dalam setiap pokok terdapat 3-4 tangkai bunga yang padat kuntumnya.
Dulu tidak begitu, anggrek yang kubeli cenderung malas berbunga. Tak jarang tak lama setelah dibeli dalam keadaan berbunga, setelah bunganya layu, anggrek itu enggan berbunga lagi. Berbagai macam pupuk pernah kami coba. Vitamin juga pernah kami coba. Semuanya tidak mempan. Sialnya lagi daun jadi menguning, dan akhirnya layu.
Pernah seorang tetangga mengusulkan memberikan monosodiumglutamat (MSG). Kristal MSG dilarutkan pada air, kemudian air disiramkan pada tanaman. Dengan keyakinan berhasil, kucoba jurus yg tak jelas nenek moyangnya ini. Beberapa minggu berlalu, terlihat batang anggrek lebih gendut dan ada tangkai bakal bunga yang muncul. Namun batang gendut itu terkulai lemas, tidak tegak seperti seharusnya. Batang anggrekku jadi loyo, menjuntai kesamping pot, lama kelamaan ia menjurai kebawah. Gilee..seriously , gw jadi sempet mikir : gimana klo MSG- incident ini terjadi pada laki-laki yak?
Tidak terpuaskan jurus ngawur tetangga, juga karena gemas melihat anggrek-anggrekku tak kunjung berbunga, akhirnya ibuku turun tangan. Macam begawan kanuragan, ia mengembangkan jurusnya sendiri. Kegagalan, tak menyurutkan niatnya menyempurnakan jurusnya. Mulai dari air bekas cucian daging sampai yang terakhir : air bekas cucian beras. Agaknya titik terang mulai terlihat. Mulailah jurus sakti ‘air cucian beras’ dengan segala teknik mencilak ditempakan pada tanaman anggrek di rumah kami.
Beberapa bulan, lahirlah sebuah jurus sakti, hasil pertapaan di dapur candradimuka. Setelah dibiarkan selama semalam, air cucian beras disiramkan pada pokok tanaman. Tak lama, tanaman anggrekpun tumbuh subur. Daunnya tebal sehat, batangnya kokoh dan tangkai- tangkai bunganya bermunculan di hampir setiap batangnya.
Mungkin karena cucian beras itu terfermentasi menghasilkan nutrisi. (gw yakin pastilah Karbon & grup vit. B, damn..why didn’t I think of that before..) Nutrisi ini dalam bentuk senyawa yang sederhana yang mudah diserap akar tanaman. Dan karena sifatnya alami, tidak terjadi over dosis walaupun diberikan dalam jumlah banyak.
Harus diakui, ibuku memang hebat, walau tidak pernah mondok di pesantren maupun pertapaan level advance manapun, toh terbukti sukses memaksa anggrek di rumahku berbunga silih berganti. Kesaktian yang tidak banyak dimiliki para pendekar. Termasuk aku, yang pernah bersemedi di perguruan berlambang kelopak teratai putih, empat jam berkuda- jauhnya dari gunung Merapi.
(believe it! , secara cowok sebelah kostku di klebengan, nekat berkuda dari kampus ugm sampe kaliurang..satu lagi contoh pembuktian gombal untuk suatu penyakit menular kejiwaan : jatuh cinta)
Kembali ke sejarah kelam kependekaranku. Aku gagal menguasai jurus ‘Anggrek Berbunga XPseries’. Gagal. Walau dengan segala macam gemblengan master dan suhu paten di koran, majalah, dan ‘kotak gambar-suara’, saat acara edukasi bermutu tinggi ditayangkan. Aku menyerah. Image kesaktianku terpatahkan dengan telak oleh jurus ciptaan ibuku yang jadwal hariannya melulu berkisar di event arisan, pengajian, senam jantung sehat dan nonton sinetron Cinta Fitri .
Tak bisa menerima. Jiwa kependekaranku menuntutku untuk mencari kemenangan lain guna memulihkan keseimbangan. Setelah lirik kanan – lirik kiri, kuputuskan mengelus aglonema sebagai gantinya. Jurus ini lebih mudah dipraktekkan, ga pusing mikirin gimana cara numbuhin bunga segala macam. Resikonya juga minim, paling ulat daun yang jadi musuhku. Dan secara nyata, harga diriku, sebagai pendekar bergelar eSTePe terselamatkan.
Begitulah awal kemesraanku dengan aglonema. Sejalan dengan waktu akupun mulai mengenal anggota keluarga besarnya yang, amboi, ternyata tak kalah rupawan.
Jadi, apakah anda masih percaya ungkapan “sekolah merupakan modal utama sukses” ?. Walau tidak meyakini konsep ini sepenuhnya, aku berharap pertanyaan ini tidak akan terlontar dari mulut balitaku saat aku memintanya pergi sekolah nanti. Lebih tak ingin lagi bila nanti ia berkilah, “kebodohan kalah dengan kepintaran, tapi kepintaran kalah dengan keberuntungan”. Bisa mati kutu aku.
Untuk Mamah, sang pendekar anggrek yang tiada tara.











Aku baru akan mulai after oktober
lebih cepat lebih baik…..LANJUTKAN!!
Dlm air cucian beras yg diperam jg ada mikrobia baik.
Sorry,Lan.aku br baca2 isi blogmu.ini jg via hp+flash.selama ini aku nanya2 sendiri,kok gak ada cerita ttg ******* *****.
iya, mikroba yg memutus polimer menjadi monmer yg mudah serap..
ttg yg satu itu..hmmm..it didnt workout well..so it had to end..
(sorry diedit ya..)