
Mengkonsumsi Vitamin C (ascorbic acid) memang baik untuk tubuh. Apalagi vitamin ini terkenal dengan jurus saktinya : menangkal penyakit. Ya, memang vitamin C mampu meningkatkan system imun. Kesaktian inilah yang banyak dimanfaatkan industri untuk meningkatkan daya jual produknya. Baik industri pangan (food-beverage) , kesehatan, sampai kecantikan. Lihat saja, saat ini banyak salon yg mengiklankan servis suntik vitamin C-nya yg diklaim mampu menyulap kulit menjadi kencang dan mulus dalam sekejap.
Dalam industri pangan, benzene terdeteksi pada produk fillings-bakery dan beverages. Pada produk fillings (misalnya selai) dan di industri beverage, penggunaan vitamin C selain karena fungsi ‘vitamin’nya juga kare
na kemampuannya sebagai pengawet (antioxidant, acid regulator) serta flavoring agent. Tak heran hampir semua produk ready to drink dengan sasaran konsumen anak-anak, remaja maupun olahragawan, baik terkemas dalam cup plastik, tetrapak, botol PET, maupun kaleng, menggunakan vitamin C dalam komposisinya.
Tapi mana ada produsen yg cukup edan memenuhi seluruh persentase pengawet dengan vitamin C. Itung-itungan biayanya nanti ga ngejual. Toh, alternatif pengawet yang murah dan food-grade cukup banyak. Asam benzoat misalnya. Kemampuannya sebagai acid regulator tak usah diragukan lagi, selain itu asam ini jg mampu menghalangi mengendapnya gula pada larutan minuman bergula (teh dalam botol, softdrink dll). Apalagi harganya yg murah dibanding asam sejenisnya. Limit ato Batasannya? Sangat longgar. Saat ini semua negara mengizinkan penggunaan asam benzoat sampai batas tak terkira (hanya sesuai etis produk). Tak heran asam ini sangat populer dan difavoritkan untuk produk liquid-semiliquid (ready to drink, sirup, sauce, kecap dll)
Namun ada bahaya yg harus diwaspadai. Saat VITAMIN C (ascorbic acid) bertemu dengan ASAM BENZOAT (bensoat, benzoic acid) , terjadi reaksi kimia yang menghasilkan senyawa BENZENE. Senyawa yang bahayanya, busyeet, ga main-main.
US-Dept.of Health & Human Services (USDHHS), menempatkan Benzene dalam kelas A1, artinya telah terbukti karsinogenik bagi manusia, mampu memicu terbentuknya sel kanker . Konsumsi produk yg mengandung benzene dalam jumlah tinggi , bisa bikin kita muntah, iritasi lambung, pusing, ngantuk-an, detak jantung tak beraturan sampai yang paling ekstrim :mati mendadak .
Konsumsi dalam jangka waktu lama (misalnya dalam jumlah sedikit tapi terus-menerus), bakal bikin berkurangnya jumlah sel darah merah, yg akhirnya mengarah ke anemia. Anemia bisa mengganggu sistem imun, akibatnya infeksi pun meningkat. Nah, bila sistem imun yg terganggu, program pertahanan tubuh bisa kacau, bahkan berbalik 180 derajat menyerang sel sehat di tubuh kita. Menurut lembaga kesehatan di amrik itu, konsumsi benzene bahkan mampu mencetuskan leukimia alias kanker darah. Darah putih, tentara imun yg seharusnya membunuh kuman-sang musuh, malah salah program, menyerang sel darah merah. Wiii..sereemmm…..
Berikut b
eberapa hal terkait pembentukan benzene:
Formulasi yg menggunakan Vitamin C dan asam benzoat dalam satu produk mampu menghasilkan benzene. Jumlahnya akan lebih besar bila terekspos pemanasan maupun cahaya, misalnya selama proses baking produk bakery maupun penyimpanan yang langsung terkena cahaya matahari.
Formulasi menggunakan Erythorbic Acid (isomer vitamin C) dan asam benzoat bersama-sama juga mampu memicu terbentuknya benzene.
Penggunaan Citric Acid dan asam benzoat bersama-sama juga mampu memicu terbentuknya benzene.
Pada produk yg menggunakan vitamin C (dan atau asam lainnya diatas) bersama dengan Asam benzoat :
Kehadiran cemaran logam (Fe, Cu, dll) pada air, dapat menjadi katalis reaksi pembentukan benzene. Benzene terbentuk lebih cepat dan banyak dalam waktu yg sama.
Semakin asam kondisi larutan (produk), pembentukan benzene akan lebih banyak. Paling banyak terjadi pada pH = 2. Produksi benzene berkurang saat pH meningkat. Pada larutan dengan pH = 7, tidak terjadi pembentukan benzene.
Saat ini, telah diketahui bberapa trik yg dapat menghambat pembentukan benzene diantaranya dengan mengganti Oksigen yg ada dlm kemasan dengan gas inert seperti N2 serta menggunakan EDTA dalam formulasi produk. EDTA efektif menghambat reaksi pembentukan bezene, sedangkan gas inert diharapkan dapat ‘mengusir’ oksigen yg mampu mempercepat reaksi pembentukan benzene. Penggunaan pemanis buatan juga terbukti efektif menekan pembentukan benzene.
Nah temans..mulai saat ini, sebelum membeli, biasakan MEMBACA LABEL pada kemasan produk. Jangan langsung menelan mentah-mentah klaim Vitamin C yg di show up produsen. Lihat juga komposisi lainnya. Aman ga?…Apalagi minuman yg beredar saat ini sangat beragam dan mayoritas konsumennya adalah anak-anak (ready to drink-cup). Lindungi anak-anak kita dari bahaya dengan bertindak cermat: membaca label.
Toh..cermat membaca Label tak ada ruginya, malah sangat menguntungkan. Selain berhati-hati terhadap efek bahayanya, juga sebagai dasar price/product-comparison dengan produk sejenis lainnya. Sudah saatnya konsumen menjadi pintar memilih barang karena kualitas, tak semata terpengaruh iklan. Hare geneee..gitu loh











kok bisa jadi racun ?