posting ini kubuat untuk memenuhi permintaan sahabatku yg meski udah liat filmya tapi masih belum puas (dasar ibu ibu ABG!!)….
berikut tulisanku tentang kisah percintaan Isabela & Edward yg ….ooohhhhhhh…
And….the story goes…
Tuhan…mengapa kau ciptakan kata TAPI..
yang membuat kebahagian tak terhirup sepenuhnya
yang membuat dahaga jiwa terpuaskan hanya di tepi..
dan mata harus menatap tanpa cahayanya…
(by bunda randy)
Entah apa yang ada dalam pikiran Bella. Ia masih terdiam di situ. Tanpa kata. Tanpa gerakan. Laksana karang….. Hanya sesekali jemarinya menyeka beberapa bulir kristal yang turun gemulai satu per satu dari sudut matanya….
“ Mata indahmu Bella… setiap kali matahari memanggang bumi, selalu membawaku ke sebuah mata air pegunungan. Melupakan bahayanya bagi Vampire sepertiku.. Membuatku menikmati damai… Engkau tahu itu.
Tapi kini, semuanya harus kita akhiri sampai di sini. Ya, sampai di sini saja. Meski halaman buku catatan harian kita masih banyak yang utuh…
Selaksa kabut pekat yang dihasung bala tentara Iblis telah membuat kita selalu salah dalam mengeja cinta. Aku bisa bayangkan, dunia selama ini tertawa melihat kita dengan terbata-bata menyimpulkan bahwa cinta adalah memiliki, menikmati, dan menguasai.
Atas nama cinta, berdua kita tepis puluhan pisau kematian dua dunia kita…
Atas nama cinta pula aku menuntutmu berbagi kekuasaan atas lentik jemari indahmu..penuh bibirmu….hangat pelukmu……
Bahkan juga atas nama cinta, kumintakan senyum manismu itu hanya untukku….
Ah, Bella padahal engkau pun tahu cinta sejati tidak pernah menuntut apa-apa, meski hanya sekedar jawaban “I love you too”.
Cemburuku pada prajurit rembulan sesungguhnya bukan tanda dari cinta. Ia hanyalah sepenggal egoisme.
Cinta itu memberi, bukan menerima, apalagi menuntut. Satu-satunya yang dikehendaki cinta hanyalah kebahagiaan bagi orang yang kita cintai. Itu saja.
Dan Aku ingin kau bahagia Bella….
Saat malam mendekap dunia dalam gelap, pernahkah kau menengadah ke langit dan bertanya,… di manakah oh Tuhan Kau menyimpan bahagia ?
Tataplah butiran-butiran yang diturunkan ke bumi itu. Bukan, itu bukan sekedar serpihan-serpihan nada. Itu adalah puisi. Maka rapat pejamkan matamu, lebar bukalah hatimu.
Lihatlah Bellaku…. Sebentar lagi kau akan tahu, bahwa bahagia ada di dunia seberang, bukan di pijakan kaki kita berdua kini.
Ke sanalah ingin kubawa dirimu terbang mengikuti bayangan pepohonan di bukit bahagia karena kesanalah setiap kekasih seharusnya membawa terbang kekasihnya.
Sayangku…tidakkah kau ada waktu untuk membalas sapaan angin?
Kemarilah Sayang, di bawah kuatnya batang cemara ini , aku ingin mengajakmu mendengarkan bisikannya.
Sebentar lagi kau akan tahu bahwa dua dunia milik kita adalah mata-mata pisau yang ditakdirkan tuk merobek-robek sayap kita ..
Dunia mengutuk cinta kita. Tulang-tulang kita juga remuk redam begitu parah. Sebentar lagi kau akan rasakan betapa sakitnya.
Demi keutuhan jiwamu, kata putusku berangkat dari sini. Mudah-mudahan engkau mengerti.
Tapi jujur kuakui, semua ini terasa perih. Andaikan saja engkau dari tadi menghitung berapa kali aku menarik nafas panjang, kau juga pasti akan tahu betapa ada berton-ton batu di pundakku.
Namun seperti yang biasa kau katakan pengorbanan adalah kata kunci dari segala apa yang ingin kita raih. Usah menangis. Lupakan saja semuanya. Biarkan semua musnah menjadi debu, terbang disapu angin, dan hilang dalam tiada. “
“Tidak bisa, Edward” suara serak Bella pecah perlahan, mengaliri pori-pori dinding.
“Aku tidak bisa melupakan semua ini begitu saja, kecuali kalau Tuhan menghendakinya, memberikanku amnesia atau apapun lainnya . Edward..Aku terlalu mencintaimu”
“Yang aku tahu, Tuhan tidak pernah meminta kita berbahagia dengan melupakan orang yang kita cintai. Kupersembahkan leher putihku untuk keutuhan sayap kita..
Bella menghempaskan jiwa Edward ke rerumputan, menelanjangi kemunafikannya. Sejatinya, Edward takkan pernah kuasa menghapus sejarah Bella yang tertoreh dengan merahnya darah. Rimba hijau, tempat Edward melayang, didepan jendela kamar Bella menjadi saksi.
Dalam pelukan tubuh Edward yang sekeras granit, sedingin angin utara dan berkilauan laksana berlian terpercik matahari, Bella hanya membisu. Ada saatnya kata tidak bisa menjelaskan apa-apa….
Hening. Semua berakhir dengan sunyi.
Bella beranjak pergi, pulang bersama matahari yang hampir sampai di ujung cakrawala, meninggalkan Edward sendiri ditikam pilu. Terasa berat melepaskan semua ini, seberat langkah gontai Bella di senja yang merah ini.
Bagi Edward jiwa raga Bella jauh lebih berharga, diatas ego siapapun..bahkan diatas nafasnya. Jiwa Edward yg tercabik menuntunnya menyelesaikan takdirnya pada klan terkuat Italy. Jalan keputus asaan dipilihnya tak tergoyahkan .
Dan pada akhirnya… kekuatan cinta jua lah yang akhirnya menghempaskan pisau kematian.
Ini episode .. putus cintanya Edward – Bella..
hope you enjoy it…
kutulis dalam sudut pandangku…
Rada ga sesuai adegan filmnya..
I know…..but i love it this way…













sialan..aq tuh emang masih muda..sih…hihi
resensinya ngawurrr..sing ditulis engalaman pribadi kali ??
tapi romantisss kok meskibanyak mellownya..
mirip mellownya bella abis diputusin edward
makacih yaaaaach..mwuah..mwuah
oh mel emang si edward badannya dingin, keras?