*_*
Seorang rekan , tak seperti biasanya, memposting artikel religius ini di fb nya. I was surprised. Bukan karena biasanya dia memposting hal-hal yg sifatnya ‘dalam masa pertumbuhan ‘, tapi karena isinya yg sebelumnya ga pernah kebayang. Sisi berbeda saat berbicara tentang perzinahan. Thanks AdjieN-Ngog for letting me share it here..
Suatu hari ketika Rasulullah SAW duduk di antara para sahabatnya, datanglah seorang pemuda dengan agak tergesa-gesa. Sebagai seorang pemuda yang sedang bergelora, ia sering terjerumus ke hal-hal yang negatif, yaitu perbuatan zina. Ia tahu bahwa perbuatan seperti itu tidak pantas dilakukan, tetapi ia merasa sulit untuk mengatasi gelora nafsunya.
Pemuda itu berkata, ”Wahai Rasulullah SAW, izinkanlah aku melakukan perbuatan zina.” Gemparlah majelis Rasulullah SAW itu. Untuk apa pemuda itu menanyakan sesuat yang sudah jelas jawabannya, demikian kata mereka yang hadir. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang mencibir pertanyan pemuda itu.
Namun, Nabi Muhammad tetap bijaksana dalam menanggapi pertanyaan pemuda itu. Rasulullah berkata kepada para sahabat, ”Suruhlah pemuda itu mendekatiku.” Maka pemuda itu pun mendekati beliau. Setelah pemuda itu duduk di dekat beliau, maka dengan lembut Rasulullah SAW berkata kepadanya, ”Wahai anak muda, apakah kamu suka bila perzinaan itu dilakukan atas diri ibumu?” Ia menjawab, ”Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda, ”Nah! Demikian perasaan orang lain, ia juga tidak suka bila hal itu terjadi pada diri ibunya.” Rasulullah SAW berkata, ”Wahai anak muda, apakah kamu rela bila hal itu terjadi atas diri putrimu?
” Ia menjawab, ”Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda, ”Nah! Orang lain pun demikian, ia tentu tidak rela bila hal itu terjadi pada diri putrinya.” Rasulullah SAW mengajukan pertanyaan serupa jika hal itu menimpa bibi ataupun saudara perempuannya. Pemuda itu mengemukakan jawaban yang sama.
Rasulullah SAW bersabda, ”Wahai anak muda, ketahuilah bahwa tidak seorang pun yang rela terhadap perbuatan yang menodai kehormatan keluarganya.” Kemudian beliau meletakkan tangan beliau pada pemuda tersebut seraya berkata, ”Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.
Sesudah kejadian itu, pemuda tersebut tidak pernah lagi melakukan perbuatan yang menodai kehormatan orang lain. (HR. Ahmad). Egoisme adalah bagian dari fitrah manusia yang tidak mungkin dihilangkan, untuk itu perlu dikendalikan dengan rasa cinta terhadap sesamanya. Sebab, jika tidak, ia akan melahirkan bencana kemanusiaan. Pemerkosaan, pencurian, perampokan, pembunuhan, dan korupsi itu terjadi karena pelakunya tidak berpikir seandainya yang menjadi korban tindakannya itu adalah dirinya sendiri atau keluarganya.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda, ”Salah seorang di antara kalian belum dikatakan beriman yang sebenarnya sebelum ia mencintai saudaranya (orang lain) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari).
Moral points. Segala hal yg kita lakukan secara langsung -tidak langsung, cepat-lambat, mau-tidak mau akan berefek pada orang-orang disekitar kita. Rasa malu atau bangga tergantung apa perbuatannya. So..its up to us grownups.. bikin keluarga kita malu atau bangga. Percayalah.. ga ada hal yg lebih membahagiakan saat menyaksikan mereka bangga terhadap kita.
*












0 Responses to “Belajar mencintai orang lain”