Tahun lalu, saat Rasyid Van Kriwul, rekan kampusku di TP-UGM mendebat pernyataanku yg mengatakan
” Fesbuk pro yahudi..Fesbuk = model penjajahan hare gene…alias kapitalis lis..lis..” Aku sempat gemas.
Rekanku yg bermukim di Solo itu dulu dikenal sebagai aktivis yang idealis, kritis, rohis-man dan mirip Jarwo Naif (hehe..ini menurut temen kantornya oom Budi Sukamasak ) kok bisa-bisanya kini ia menjadi suporter fesbuk.
Ia pun menyitir pendapat seorang ulama jateng yg intinya “hal spt itu boleh -boleh saja, walaupun itu yahudi, yg penting kita ambil & manfaatkan sisi baiknya” (sorry banget iki Rasyid, aku lali persise emailmu).
Saat itu aku tetap keukeuh tak akan punya akun fesbuk atau sejenisnya, tak peduli bila ada yg melabeliku “tidak eksis” “ Ga Gaul” atau sinisme lainnya. Terus terang sampai detik ini, hati ini tidak sreg. Kenapa sistem facebook dot com ini eksklusif, hanya bisa diakses bila kita punya akun fesbuk jg. Kenapa tidak dibebaskan saja, seperti blog. Kalau masalah untung, toh banyak juga kok yg bisa beriklan.
Aku masih tak bergeming saat gadget yg berfitur facebook application makin murah dan mudah didapat. Nexia misalnya, hanya dengan 999ribu kita memperoleh gadget yg Blackberrylooksalike, termasuk fitur-fiturnya. Apalagi bila ber Visa BNI, bisa dicicil 12 bulan dengan bunga 0%. Nah, untuk yg satu ini kira-kira aku dapat 4-5 kali sms dari BNI center soal promo ini. Tapi ya itu..semuanya kuacuhkan. Tak terbersit niatan menghianati henpon cinaku yg ber-tv tuner.. Maklum, buat commuter seperti saya, yg harus muter-muterin jakarta setiap hari hanya untuk ngantor, menghabiskan 1-2 jam di jaaln akan terasa lebih bermakna dengan henpon ber-tv. I’m so in love with my henpon-tv cinaku..juatuh cintroong pokoke..
Tapi sejak Cowok kecilku menapaki takdirnya di gerbang TK Nabila Juli lalu, aku jadi serba salah. Para orangtua murid yg sekelas anakku hampir seluruhnya memiliki akun fesbuk. Akhirnya ibu guru pun ikutan berfesbuk. Everybody connected to each other. Kalo cuma itu sih ga masalah…Tapi saat si ibu guru mulai update statusnya dengan hal-hal yg dia ajarkan di kelas hari itu, masalah pun muncul. Dari cowok kecilku, Randy
Suatu pagi ia menangis,” bunda…jangan kerja ya..anterin Randy ke sekolah..Randy ga bisa nulis huruf ‘a’…bunda sama randy ke sekolah ya….” iapun memeluk kakiku, menahanku beranjak. Isaknya semakin menjadi.
Sambil kehera
nan ia ku gendong “Loh, kemarin malam kan sudah bunda ajari.. Randy-anak soleh.. kan sudah bisa buat huruf ‘a’ dua halaman penuh..jangan takut doong..” tenangku sambil kupeluk dan kubelai rambutnya yg baru di -skin style ala dani-dewa.
Tapi itu tak menghentikan air matanyanya yang makin membanjir, membasahi blus putihku. Akhirnya dengan terpaksa kutelpon kantor untuk cuti. Kuputuskan untuk menyelidiki kenapa si lucu yg sebelumnya senang sekolah dan bahagia memiliki banyak teman sebayanya, menjadi “ngadat” macam motor terkena hujan di parkiran bioskop.
Di halaman sekolah ia bermain riang bersama teman-temannya, tapi saat tiba masuk kelas, anakku mulai menangis lagi, memaksaku ikut masuk kedalam kelas. Dengan malu aku pamit pada ibu-ibu yg bersamaku duduk diruang tunggu parkiran .
Didalam kelas, kusaksikan Ibu Guru mengajarkan cara menulis huruf “a”.
“Tulis angka satu, tambahkan perut bulat di belakangnya” serunya didepan kelas. Semua anak dengan lancar mengikuti, kecuali anakku.
“ bunda…” ia mulai terisak. Segera kulihat buku tulisnya, hihihi aku ketawa dalam hati huruf “a” nya lebih mirip kecebong berekor super panjang…
“Randy, buatnya jangan perutnya dulu ya..” kata ibu guru yg mendekat ke arah kami.
“ Bu guru, maaf saya yg mengajari begitu. Huruf “a” itu bulatan diberi satu kaki kecil” ujarku buru buru.
“Klo itu akan lebih sulit bu, sebaiknya angka satu dulu baru diikuti perutnya, saya sudah tulis itu di facebook 2-3 hari lalu. Ibu punya fesbuk kan?” kata si ibu guru dengan nada tak percaya. Seakan-akan aku males baca update statusnya dia. Seakan-akan aku lalai meng-add dia..
Ooo..Ooooo…
I was just stood up in silent..gave her my best warm smile 
(that..actually.. made me looks stupid to her)…
senyum lebar..mata kedip-kedip…garuk-garuk kepala…
berharap si ibu guru segera beralih….ga tau gimana perasaanku saat itu
Bu guru..aku memang ga punya akun fesbuk…..
Mana aku tau klo di kelas TK A1 ini, huruf “a” itu = angka 1 + perut gendut….
Mana aku tau si ibu guru kreatif update statusnya dengan materi pelajaran hari itu , that every parents yg berfesbukan sama dia jadi bisa menyinkronkan (halah..iki bahasa opo toh..) dengan teknik ngajarnya si ibu guru. Dan anak-anaknya jd ga kebingungan antara belajar di rumah-dikelas
Mana aku tau kalo… akhirnya fesbuk ..really got me..
Akhirnya dengan berat hati..kubuat fesbuk menggunakan nama kecilku, Meizke . Nama yg sempat jadi panggilanku sebelum mbah kakung menginstruksikan ortuku mengganti namaku dengan nama yg sekarang, sesuai hitungan primbon jawa. .
Biar bagaimanapun, sungguh tak nyaman rasanya meng upclose diri kita secara frontal pada publik, even if ..itu cuma dunia maya.
“Demi Randy pinter..demi Randy anak sholeh…” ini kata yg terus kubisikkan dalam hatiku dan perlahan menghipnotis..membuka jalur otakku yg memerintahkan jemariku register di facebook dot kom dengan provider Smart ku.
ahhhh….akhirnya..fesbukan juga..
Like this:
Be the first to like this post.
What They Say About It